Home / Contact / Laston Atas Menggunakan Material ATB (Asphalt Treated Base)
1,351 views

Laston Atas Menggunakan Material ATB (Asphalt Treated Base)

Gambar : Laston Atas dengan Material ATB

Gambar : Laston Atas dengan Material ATB

Kondisi Atas yang Menggunakan Laston Atas (ATB)

Salah satu jenis dari Aspal beton campuran panas adalah campuran ATB (Asphalt Treated Base). Campuran ATB (Asphalt Treated Base) adalah lapis pondasi atas (Laston Atas) yang terletak di bawah lapis permukaan yang khusus diformulasikan untuk meningkatkan keawetan dan ketahanan kelelahan.

BAHAN

a.  Agregat :

  1. Agregat yang dipergunakan untuk Laston Atas berupa sirtu hasil pecah mesin (crushed gravel) atau batu pecah (chrused stone) yang bersih dari lempung, bahan-bahan organik dan bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki, serta memenuhi persyaratan berikut :
  • Kehilangan berat akibat abrasi dengan mesin Los Angeles pada 500 putaran : 40% (MPJB.PB.0206 – 1976).
  • Kelekatan agregat terhadap aspal 95% (MPJB.PB.0205 – 1976).
  • Indeks kepipihan agregat maksimum 25% (BS)
  • Minimum dari agregat kasar yang tertahan saringan no.4 harus mempunyai satu bidang pecah.
  • Peresapan agregat terhadap air maksimum 3% (MPJB.PB.0202 – 1976).
  • Berat jenis semu (apparent) (MPJB.PB.0202 – 76) agregat minimum 2,50.
  • Gumpalan lempung dalam agregat maksimum 25%.
  1. Pasir untuk Laston Atas harus non-plastis, (MPJB.PB.0109 – 76 dan MPJB.PB.0111 – 76) bersih dari bahan-bahan lempung, organik dan bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki serta mempunyai Sand Equivalen minimum 50% (AASHTO T – 176).

b.  Bahan Pengikat :

1.  Aspal keras yang digunakan adalah dari jenis Penetrasi 60/70 atau penetrasi 80/100 yang memenuhi persyaratan.
2.  Aspal cair yang digunakan untuk lapis resap pengikat (Prime Coat) terdiri dari jenis MC-30, MC-70, MC-250, aspal emulsi dari jenis CMS atau MS yang memenuhi persyaratan.
3.  Aspal cair yang digunakan untuk lapisan pengikat (Tack Coat), adalah dari jenis RC-70, RC-250, aspal emulsi jenis CRS atau RS yang memenuhi persyaratan.

PERALATAN

1.  Peralatan Pencampur :

  • Unit peralatan pencampur aspal (AMP)
  • Shovel loader
  • Sekop, pahat dan alat-alat bantu lainnya

2.  Peralatan lapangan :

  • Mesin penghampar (Asphalt Finisher)
  • Mesin gilas tandem atau mesin gilas roda tiga 4 – 6 ton
  • Dump Truck
  • Mesin penyemprot aspal
  • Kompresor
  • Sekop, garu, sikat, balok kayu, gerobak dorong, dan alat-alat bantu lainnya.

3.  Peralatan laboratorium lapangan, disesuaikan dengan jenis-jenis pengujian yang dipersyaratkan.

CARA PELAKSANAAN

1.  Produksi Campuran :

  • Perbandingan bahan campuran harus sesuai dengan rencana campuran.
  • Pencampuran harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sampai bahan tercampur baik dan merata.
  • Agregat dipanaskan maksimum 150º C. Temperatur aspal harus lebih rendah atau sama dengan temperatur agregat, dengan perbedaan maksimum 15º C. Temperatur campuran ditentukan oleh jenis aspal yang dipergunakan, dengan ketentuan sebagai berikut :
    Untuk pen 60/70     :  130º C – 165º C
    Untuk pen 80/100   :  124º C – 162º C

2.  Persiapan Lapangan :

a.  Bentuk permukaan kearah memanjang dan melintang harus telah dipersiapkan sesuai dengan gambar rencana.
b.  Permukaan harus bebas lempung, bahan-bahan organis & bahan lainnya yang tidak dikehendaki.
c.  Permukaan yang tidak menggunakan bahan pengikat harus dibuat cukup lembab (tidak terlalu kering). Permukaan yang menggunakan bahan pengikat harus kering
d.  Permukaan yang tidak menggunakan bahan pengikat, harus diberi lapis pengikat (prime coat), sebanyak 0,6 – 1,5  l/m2.
e.  Permukaan yang menggunakan bahan pengikat harus diberi lapis pengikat (tack coat), sebanyak maksimum 0,5  l/m2.

3.  Pengangkutan :

  • Pengankutan dilakukan dengan dump truck yang baknya terbuat dari metal, rapat, bersih dan disemprot dengan air sabun, fuel oil, parafin oil, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya adspal di bak dump truck.
  • Selama pengangkutan, sebaiknya campuran di tutup dengan terpal, untuk melindunginya dari pengaruh cuaca

4.  Penghamparan :

  • Penghamparan hendaknya dimulai dari posisi tarjauh dari kedudukan unit peralatan campuran aspal ( AMP – Aspahalt Mixing Plent ) dan berakhir di posisi terdekat, sesuai yang direncanakan.
  • Campuran harus dihampar pada temperatur 115º C.

5.  Pemadatan :

a.  Pemadatan awal ( break down rolling ) dilakukan pada temperatur minimum 80º c dengan menggunakan mesin gilas roda besi tandem atau mesin gilas roda tiga ( 4-6 ton ) sebanyak 2-4 lintasan pada kecepatan 5-10 Km/Jam.

b.  Segara sesudah pemadatan awal selesai, dilakukan pemadatan antara ( Intermediate rolling ), dengan menggunakan mesin gilas roda karet ( 10-12 ton ) dengan tekaqnan ban 70-80 psi, pada kecepatan 5-10 km/jam.

c.  Terakhir, Pemadatan akhir ( finishing rolling ) dilakukan dengan mesin gilas besi tandem ( 4-6 ton ) segera sesudah pemadatan antara berkhir sebnayk 4-6 lintasan, pada kecepatan 5-8 km/jam. Pada temperatur minimum 60º C atau sedikit di atas titik lelah aspal yang digunakan pemadatan harus sudah berakhir.

6.  Cara Pemadatan :

a.  Pada jalan lurus, pemadatan dimulai dari jalan tepi perkerasan sejajar as jalan menuju ketengah.

b.  Pada tikungan, pemadatan dimulai dari bagian yang rendah sejara jalan menuju kebagian yang tinggi.

c.  Pada bagian tanjakan dan turunan harus dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju kebagian yang tinggi.

Baca : Konstruksi perkerasan lentur terdiri atas lapisan.

d.  Roda penggerak mesin gilas pada lintasan pertama ditempatkan dimuka

e.  Pada waktu pemadatan roda mesin gilas harus di basahi dengan air.

f.  Laston atas dapat dibuka untuk lalu lintas dengan kecepatan rendah setelah pemadatan akhir selesai, dan temperatur sudah turun sampai dibawah titik lembek aspal (setalah ± 2 jam). Dapat dibuka untuk lalu lintas penuh setelah empat jam.

7.  Syarat Kepadatan

Hasil kepadatan harus mencapai minimal 75 % dari kepadatan labolatorium. Lebar dan tebal lapisan padat harus sesuai dengan gambar rencana dengan toleransi sebagaimana ditetapakan Direksi.

PENGUJIAN MUTU

1.  Pengujian Permukaan dari Perkerasan :

a.  Permukaan harus diuji dengan mal permukaan dan penggaris lurus 4 m, yang disediakan oleh kontraktor, yang diletakkan masing masing tegak lurus dan sejajar sumbu jalan. Kontraktor harus menugaskan beberapa pegawainya untuk menggunakan mal dan penggaris sesuai perintah Direksi dalam memeriksa seluruh permukaan. Mal permukaan Harus sesuai dengan penampang melintang yang di tunjukkan dalam gambar.

b.  Variasi permukaan dari tepi penguji mal prmukaan atau penggaris antara dua titik kontak dengan permukaan harus tidak melebihi 3 mm, dan permukaan akhir dari Laston Atas/ATB harus tidak lebih dari satu cm diatas atas di bawah ketinggian rencana pada tiap titik.

c.  Pengujian untuk memenuhi bentuk permukaan dan kelandaian yang dipersyaratkan harus dilakukan segera setelah pemandatan awal, dan variasi harus dikoreksi dengan membuang atau menambah material sebagaimana diperlukan. Penggilasan selanjutnya harus dilanjutkan sebagaimana dipersyaratkan.

d.  Setelah panggilasan akhir, kehalusan dari lapisan harus di periksa kembali dan setiap ketidakrataan dari permukaan yang melewati batas yang disebutkan diatas, serta lokasi yang rusak teksturnya, koposisinya harus diperbaiki sebagaimana di perintahkan oleh direksi.

2.  Kebutuhan Pemadatan :

  1. Kerapatan dari campuran yang telah di padatkan, seperti ditentukan oleh ASTHO T-166, harus tidak kurang dari 98% dari kerapatan contoh yang dipadatkan di – labolatorium dari material yang sama juga dalam proporsiya
  2. Cara pengambilan material dan pemadatan dari contoh harus sesuai masing-masing dengan AASHTO T-168 dan ASSTHO T-245

3.  Pengambilan contoh untuk pengendalian kualitas campuran :

  1. Contoh sebagai berikut harus di ambil untuk pengujian harian
    • Agregat dari penampung panas untuk gradasi hasil pencucian
    • Gabungan agregat panas untuk gradasi hasil pencucian.
    • Campuran agregat dan aspal dalam keadaan lepas untuk ekstraksi dan stabilitas marshall.
  2. Sebagai tambahan bila mengganti formula campuran kerja (job mix formula) atau dari waktu kewaktu sebagaimana di perintahkan oleh direksi, tambahan contoh dari (i), (ii) (iii) akan di ambil untuk memungkinkan penentuan berat jenis gabungan agregat dari penampng panas dan kerapatan teoritas maksimum campuran aspal (AASHTO T209-74).

4.  Pengujian untuk Pengendalian Kualitas Campuran :

  1. Kontraktor harus menyimpan rekaman dari seluruh pengujian & rekaman ini harus dikirim ke dereksi secara terus menerus tanpa ada kelambatan.
  2. Kontraktor harus menyediakan bagi direksi hasil serta rekaman pengujian yang berikut yang dilaksanakan pada tiap hari produksi bersama sama dengan lokasi yang tepat dari produksi tersebut ditempatkan.
    1. Analisa saringan (metode pencucian ) untuk paling sedikit dua contoh dari gabungan agerat panas.
    2. Temperatur dari campuran sewaktu pengambilan contoh  dipusat pencampur dan diatas jalan (setiap satu jam).
    3. Kerapatan dari campuran yang dipadatkan dilabolatorium ( Kerapatan marshall ) paling sedikit untuk dua contoh.
    4. Kerapatan dari pemadatan dan presentase pemadatan dari campuran terhadap kerapatan marshall di labolatorium paling sedikit untuk dua contoh.
    5. Stabilitas Marsall serta lelah (flow)nya dan hasil angka perbandingan Marshall seperti didefinisikan dalam spesifikasi paling sedikit untuk dua contoh.
    6. Kadar aspal dan gradasi agregat dari campuran seperti ditetapkan dengan pengujian ekstraksi aspal paling sedikit untuk dua contoh.
    7. Pori udara dalam campuran, sebagaimana dihitung secara kira-kira menggunakan berat jenis dari agregat paling sedikit untuk dua contoh.
    8. Aspal yang di absorbsi oleh agregat sebagaimana dihitung secara kira-kira menggunakan berat jenis agregat paling sedikit untuk dua contoh.
  3. Dari waktu kewaktu, sebagaimana diperintahkan oleh Direksi, kontraktor harus mengirim pula hasil pengujian untuk pori udara dan absorbsi aspal, yang dihitung secara lebih teliti atas dasar berat jenis maksimum dan campuran aspal untuk perkerasan (AASHTO T209-74 ), dan untuk penetrasi & titik pelunakkan (Ring and Ball) dan contoh aspal yang diekstraksi dari campuran yang telah selesai di pasang.

5.  Dukungan terhadap pengendalian kualitas dengan perimbangan campuran :

  1. Berat dari campuran yang ditempatkan harus selalu dimonitor dengan karcis pengiriman muatan dari penimbangan truck.
  2. Penentuan dilaboratorium dan kadar aspal campuran kerja harus dilaksanakan paling sedikit satu kali perhari bila campuran diproduksi dan satu contoh disetiap 200 ton campuran yang diproduksi. Contoh dan campuran kerja (job mix) harus diambil dibawah pengawasan direksi.

DIMENSI

Dari pengalaman perencanaan tebal lapisan perkerasan Laston Atas/ATB (Asphalt Treated Base) berkisar antara 5 – 10 cm. Cara menentukan tebal perkerasan Laston Atas/ATB akan dibicarakan khusus pada uraian terpisah mengenai perencanaan tebal perkerasan.

PERBAIKAN KESALAHAN

Lokasi dari ATB dengan tebal atau kerapatan atau berat yang kurang dari batas toleransi yang diberikan dalam spesifikasi, harus diperbaiki seperti diperintahkan oleh direksi.

Perbaikan dapat meliputi pembongkaran dari penggantian, penambahan dari lapisan tambahan Laston Atas/ATB dan atau tindakan yang dipandang perlu oleh direksi.

PEMELIHARAAN

Kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan bertanggung jawab memelihara pekerjaan selama periode pemeliharaan atau sampai dengan saat pekerjaan lapisan penutup akan dikerjakan. Jika ada kerusakan dalam periode pemeliharaan maka kontraktor wajib melakukan perbaikan pengawasan pihak direksi.

Baca Juga : Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen.

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates