Home / Blog / Beton Segar
78 views

Beton Segar

Sifat-Sifat Beton Segar

Sifat-Sifat Beton Segar

Sifat-Sifat Beton segar

Beton segar adalah beton dalam kondisi plastis (sebelum mengeras), dan akan segera mengeras dalam beberapa jam setelah beton diaduk. Beton segar harus mempunyai kinerja tinggi yaitu: kelecakan atau kemudahan dikerjakan, kohesivitas dan kemudahan pemompaan ke tempat yang tinggi, panas hidrasi rendah, susut yang relative rendah pada proses pengerasan dan percepatan maupun penundaan waktu ikat awal. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada beton segar adalah:

1.  Kemudahan pengerjaan (workability)

Istilah workabilitas sulit untuk didefinisikan dengan tepat, dan  Newman  mengusulkan agar didefinisikan sekurang – kurangnya tiga buah sifat yang terpisah :

  1. Kompaktibilitas, atau kemudahan dimana beton dapat dipadatkan dan rongga – rongga udara diambil
  2. Mobilitas, atau kemudahan dimana beton dapat mengalir ke dalam cetakan di sekitar baja dan dituang kembali
  3. Stabilitasm atau kemampuan beton untuk tetap sebagai massa yang homogen ; koheren dan stabil selama dikerjakan dan digetarkan tanpa terjadi segregasi / pemisahan butiran dari bahan – bahan utamanya.

Sifat dapat dikerjakan pada beton merupakan ukuran dari tingkat kemudahan untuk adukan untuk diaduk, diangkut, dituang / dicetak, dan dipadatkan. Perbandingan bahan – bahan ataupun sifat bahan – bahan secara bersama – sama mempengaruhi sifat dapat dikerjakan beton segar. Unsur – unsur yang memperngaruhi sifat kemudahan dikerjakan antara lain :

  1. Jumlah air yang dipakai dalam campuran beton. Makin banyak air yang dipakai makin mudah beton segar itu dikerjakan.
  2. Penambahan semen kedalam campuran juga memudahkan cara pengerjaan adukan beton, karena pasti diikuti dengan bertambahnya air campuran untuk memperoleh nilai fas tetap.
  3. Gradasi campuran pasir dan kerikil. Bila campuran pasir dan kerikil mengikuti gradasi yang telah disarankan oleh peraturan maka adukan beton akan mudah dikerjakan.
  4. Pemakaian butir – butir agregat yang bulat mempermudah cara pengerjaan beton.
  5. Pemakaian butir maksimum kerikil yang dipakai juga berpengaruh terhadap tingkat kemudahan dikerjakan.
  6. Cara pemadatan adukan beton menentukan sifat pengerjaan yang berbeda. Bila cara pemadatan dilakukan dengan alat getar maka diperlukan tingkat kelecakan yang berbeda, sehingga diperlukan jumlah air yang lebih sedikit daripada jika dipadatkan dengan tangan.

Tingkat kemudahan pengerjaan

Tingkat kemudahan pengerjaan berkaitan erat dengan tingkat kelecakan (keenceran) adukan beton. Makin cair adukan makin mudah cara pengerjaannya. Untuk mengetahui tingkat kelecakan adukan beton biasanya dilakukan dengan percobaan slam (slump). Makin besar nilai slam berarti adukan beton semakin encer dan ini berarti semakin mudah dikerjakan.

Baca Juga : Perencanaan Campuran Beton.

Untuk mencegah penggunaan adukan yang terlalu kental atau terlalu encer, dianjurkan untuk menggunakan nilai – nilai slump yang terletak dalam batas – batas yang ditujukan dalam tabel 3.7

Tabel 3-7. Nilai – nilai slump untuk berbagai – bagai Pekerjaan Beton

2.  Pemisahan air (bleeding)

Kecenderungan air campuran untuk naik keatas (memisahkan diri) pada beton segar yang baru saja dipadatkan disebut “bleeding”. Air naik keatas sambil membawa semen dan butir – butir halus pasir, yang pada akhirnya setelah beton mengeras akan tampak sebagai lapisan selaput. Lapisan ini dikenal sebagai “Laitance”

Pemisahan air ini dapat dikurangi dengan cara – cara sebagai berikut :

  1. Memberi lebih banyak semen
  2. Menggunakan air sedikit mungkin
  3. Menggunakan pasir yang lebih banyak.

3.  Pemisahan kerikil (segregasi)

Segregasi adalah pemisahan dari berbagai bahan pilihan campuran beton disebabkan oleh ukuran partikel dari berat jenis relatif yang berbeda. Terdapat suatu terndensi pada partikel yang lebih kasar dan berat untuk mengendap dan pada bahan – bahan yang lebih ringan, terutama air untuk naik ke permukaan.

Suatu hubungan erat terdapat antara segregasi dengan ketidaksempurnaan yang banyak terjadi dalam konstruksi beton seperti “keropos”, lemah dan lapisan yang berpori, permukaan yang bersisik dan goresan pasir.

Mudrock (1999) menuliskan bahwa segresi disebabkan oleh :

  • Penggunaan air campuran yang terlalu banyak
  • Agregatnya mempunyai gradasi yang jelek, terutama bila jumlah semen kurang
  • Cara pengelolaan yang tidak memenuhi syarat

Selanjutnya, Kardiyono  menuliskan bahwa kecendurngan pemisahan kerikil ini diperbesar dengan :

  1. Campuran yang kurus (kurang semen)
  2. Semakin besar butir kerikil
  3. Semakin kasar permukaan kerikil

Pemisahan kerikil dari adukan beton berakibat kurang baik terhadap betonnya setelah mengeras. Untuk mengurangi kecenderungan pemisahaan kerikil tersebut maka diusahakan hal – hal sebagai berikut :

  1. Air yang diberikan sedikit mungkin
  2. Adukan beton jangan dijatuhkan dengan ketinggian terlalu besar
  3. Cara pengangkut, panuangan maupun pemadatan harus mengikut cara cara yang betul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates