Home / Contact / Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen
182 views

Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen

Gambar : Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen

Gambar : Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen

Lapis Pondasi Atas dengan Stabilisasi Semen

BAHAN

Bahan tanah untuk lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen harus dipilih dari suatu sumber yang disetujui dan disesuaikan dengan spesifikasi atau petunjuk direksi. Tanah untuk lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen harus berupa kerikil alam, pasir yang bercampur tanah liat kasar, atau bahan-bahan lainnya yang bila dicampur semen akan menghasilkan suatu bahan akhir sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi. Semen yang digunakan harus berupa semen portland jenis I sesuai dengan AASHTO M 85.

Air yang digunakan harus bebas dari minyak, garam, asam alkali, gula atau bahan organik lain, harus diuji sesuai dengan ASSHTO T 26. Air yang diketahui untuk diminum, tidak perlu diuji, dapat langsung digunakan.

PERALATAN

  • Motor Grader
  • Mesin gilas roda besi 4 – + – 6 ton (kalau ada, mesin gilas getar)
  • Mesin gilas roda karet
  • Truk tangki air
  • Bulldozer
  • Wheel loader
  • Dump truk
  • Alat pencampur tetap (central/stasioner), atau bergerak (mobile)
  • Flat bed truk
  • Mesin penyemprot aspal

CARA PELAKSANAAN

Pelaksanaan lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen mempunyai 2 (dua) cara yaitu :
a.  Pelaksanaan dengan alat pencampur tetap (stasioner)
b.  Pelaksanaan dengan alat pencampur bergerak (mobile)

Tahapan pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai berikut :

1.  Persiapan

Sebelum  pelaksanaan  lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen, dilakukan pekerjaan persiapan yang meliputi :

  • Pembentukan badan jalan dan pembuatan saluran drainase sesuai dengan rencana gambar.
  • Pembuatan tanah dan material lainnya yang tidak memenuhi persyaratan, untuk diganti dengan bahan lain yang dapat disetujui direksi.
  • Tanah dasar atau lapis pondasi bawah harus cukup stabil dan dapat memikul beban peralatan yang digunakan. Bekas-bekas roda dump truck pada permukaan tanah harus diperbaiki.
  • Pemotongan ujung hasil stabilisasi semen terdahulu.

Khusus untuk pelaksanaan dengan alat perencanaan bergerak tahapan persiapan ditambah dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

  • Pengangkutan tanah yang akan dicampur ke lokasi penghamparan.
  • Peralatan tanah dengan alat motor grader disertai dengan pembentukan tanah dasar sesuai dengan gambar rencana.
  • Penempatan-penempatan semen (dalam kantong-kantong semen dengan jarak tertentu sesuai dengan kebutuhan semen yang diperhitungkan).
  • Kantong semen dibuka untuk kemudian disebarkan secara merata.

2.  Penggemburan

Penggemburan dilakukan agar 100% dari berat kering tanah lolos pada saringan 2,5 cm dan paling sedikit 80% lolos saringan no. 4 (4,75 cm)

  • Pencampuran tanah, semen dan air dilakukan dalam mesin pencampur (pugmill) yang dilengkapi dengan peralatan pengukur agar jumlah bagian-bagian yang dicampur dapat selalu diawasi sesuai dengan rumusan perbandingan campuran yang telah disetujui direksi.
  • Pencampuran agar dilakukan dengan sebaik-baiknya agar diperoleh campuran merata dan tidak terdapat gumpalan-gumpalan semen pada waktu menambah air.
  • Penambahan tanah dan air kedalam alat pencampur tidak boleh lebih dari 5% terhadap banyaknya masing-masing bahan tersebut yang direncanakan dan disetujui direksi. Sedang penambahan semen ditentukan sedemikian rupa sehingga variasi kadar semen dalam contoh yang diambil dari alat pencampur atau dari campuran yang telah terhampar, dengan variasi jumlah semen yang ditentukan ±0,5 %.

Khusus pada pelaksanaan dengan alat pencampur bergerak, tahap pencampuran ini dilaksanakan bersamaan dengan tahap penghamparan yaitu dengan menggunakan alat pencampur penggerak, tahap pencampuran ini dilaksanakan (travel mixer) yang mencampur lapisan tanah dan semen yang telah dihampar.

3.  Penghamparan

  • Campuran yang telah tersedia harus dilindungi terhadap pengaruh kelembaban selama pengangkutan ke lokasi penghamparan.
  • Sebelum penghamparan dilakukan, permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah yang akan dilapis harus dibuat lembab dan bebas dari bahan-bahan kasar dan halus yang lepas, bahan-bahan organis serta bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki.
  • Setelah campuran dihampar dengan alat penghampar mekanis harus segera siap untuk pemadatan tanpa perlu pembentukan (shaping) terlebih dahulu. Untuk ini alat penghampar harus dilengkapi peralatan (screed) guna memotong/membentuk permukaan hamparan secara secara baik dan rata,dengan ukuran dan bentuk sesuai dengan gambar rencana dan disetujui direksi.

4.  Pemadatan :

a.  Pemadatan awal dilakukan dengan mesin gilas rdabesi (4 – 6 ton) sebanyak 2 – 4 lintasan pada kecepata 3 – 4 Km/jam.

b.  Pemadatan akhir dilakukan segera setelah pemadatan awal selesai dengna menggunakan mesin gilas roda karet (10 – 12 ton) pada kecepatan 5 km/jam sampai diperoleh permukaan yang  rata  dan  dicapai  kepadatan 100%  kepadatan standar   (MPJB PB 0112 – 76).

c.  Pemadatan harus selesai dalam waktu paling lama 2 jam sejak mulainya pencampuran dengan air.

5.  Syarat-syarat ketebalan dan kerataan permukaan

  • Pengukuran ketebalan yang dilakukan pada setiap interval tidak lebih dari 100 m, harus menghasilkan ketebalan rata-rata yang sesuai dengan gambar rencana dengan toleransi 10 mm.
  • Toleransi kerataan yang diukur dengan mal datar sepanjang 3 meter yang ditempatkan sejajar as jalan diijinkan sebesar 10 mm.
  • Apabila tebal hamparan lebih dari 20 cm maka penghamparan & pemadatan harus dilakukan dua kali, masing-masing dengan tebal hamparan tidak kurang dari 10 cm.

6.  Pelapisan dengan lapis pengikat

Dilakukan dengan menggunakan aspal cair atau aspal emulsi sesuai dengan yang ditentukan dalam spesifikasi atau sesuai petunjuk direksi.

7.  Lalu – lintas umum

Lalu-lintas umum boleh melewati dengan kecepatan rendah setelah 7 hari, kecuali ada petunjuk lain dari direksi.

8.  Petunjuk Direksi

  • Direksi dapat memberikan petunjuk-petunjuk tambahan.
  • Mutu dan jumlah bahan yang dipergunakan harus disetujui Direksi.
  • Mutu hasil pekerjaan harus disetujui Direksi berdasarkan hasil pemeriksaan dengan jumlah dan cara yang ditetapkannya.
  • Bila terjadi ketidak sesuaian dengan persyaratan atau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, kontraktor diwajibkan untuk memperbaiki atau menyempurnakannya sesuai petunjuk direksi. Segala biaya dan resiko sebagai akibat perbaikan tersebut menjadi tanggungan kontraktor.

PENGUJIAN MUTU

Untuk memastikan mutu bahan lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen, kontraktor harus menyerahkan hasil pemeriksaan labolatorium dari bahan yang akan digunakan untuk mendapatkan persetujuan dari direksi. Pengambilan contoh bahan untuk pemeriksaan dilakukan oleh kontraktor dan disaksikan oleh direksi atau wakil yang ditunjuknya.

Segala biaya yang dikeluarkan untuk pengambilan dan pemeriksaan contoh-contoh bahan menjadi tanggungan kontraktor.

Sebelum pengambilan bahan dilaksanakan, harus mendapat persetujuan direksi, yang mana persetujuan ini bukan merupakan persetujuan akhir terhadap bahan dari sumber tersebut, kecuali setelah dikerjakan menurut ketentuan yang ditetapkan.

Kontraktor harus menyediakan dan membiayai labolatorium lapangan, yang setiap saat dapat digunakan oleh tenaga geoteknik, direksi atau pihak lain yang ditunjuk direksi.

Baca :  Perbandingan Jalan Aspal, Beton dan Paving Block.

Bahan yang masih menunggu hasil pengujian labolatorium atau yang meragukan tidak boleh ditempatkan dilapangan atau dicampur dengan bahan yang telah disetujui direksi.

Apabila gradasi atau mutu bahan yang dikirim ke lapangan tidak sesuai dengan yang disyaratkan, direksi berhak untuk menolak bahan tersebut dan kontraktor harus segera menyingkirkannya dari lapangan. Kontraktor wajib mengijinkan setiap perwakilan direksi yang ditunjuk untuk melaksanakan pemeriksaan bahan yang akan digunakan pada setiap saat selama atau setelah pekerjaan selesai. Kontraktor wajib menyediakan dan mengatur semua bahan, tenaga, peralatan untuk keperluan pemeriksaan tersebut.

Standar Rujukan (AASHTO) : 

T89  – 68   Penentuan batas cair tanah
T90  – 70   Penetuan batas plastis dan indeks plastisitas tanah
T96  – 77   Katahanan terhadap abrasi dari agregat kasar berukuran kecil dengan menggunakan mesin “The Los Angeles”
T122 – 78   Gumpalan-gumpalan tanah liat dan partikel-partikel yang “friable” dalam agregat.
T176 – 73   Debu plastis dalam agregat-agregat bergradasi yang tertentu dan tanah dengan menggunakan pengujian ekivalen pasir.
T180 – 74   Hubungan antara kepadatan dan kadar air dengan menggunakan suatu alat pampat 4,54 kg dan suatu tinggi jatuh 457 mm.
T191 – 61   Kepadatan tanah ditempat dengan menggunakan metoda kerucut pasir.
T193 – 72   The Californian Bearing Ratio
M85  – 75   Semen Portland.
T26   – 72   Kualitas air yang digunakan dalam beton.
T104 – 77   Kekuatan agregat dengan menggunakan sodium sulfat.

DIMENSI

Dari pengalaman perencanaan tebal lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen berkisar antara 20 cm – 50 cm, tergantung jumlah kendaraan (AADT), umur rencana atau years life dan lain-lain faktor, seperti diuraikan dalam buku pedoman perencanaan perkerasan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Bina Marga. Uraian mengenai tebal perkerasan dibicarakan khusus dalam tulisan mengenai perencanaan perkerasan jalan.

PERBAIKAN KESALAHAN

  • Daerah-daerah dengan suatu keseragaman permukaan yang tidak memuaskan toleransi yang ditetapkan dalam spesifikasi atau yang menimbulkan ketidakrataan pada permukaan selama konstruksi harus dibetulkan dengan menggemburkan permukaan dan membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan, disusun dengan pembentukan dan pemadatan kembali, asal saja hal ini dilaksanakan dengan batas waktu 2 jam seperti yang ditetapkan dalam spesifikasi.
    Jika pekerjaan ini tidak dapat dilakukan dalam waktu tersebut diatas, maka kontraktor harus membongkar daerah bahan dengan keseragaman permukaan yang terletak diluar toleransi-toleransi yang ditetapkan, untuk dibuang dan diganti dengan material baru dan dilaksanakan kembali menurut aturan spesifikasi yang betul.
  • Dimana ketebalan lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen terletak diluar toleransi yang diberikan dalam spesifikasi, maka kontraktor harus membongkar bahan lapis pondasi atas yang demikian untuk dibuang dan menggantikannya sesuai dengan persyaratan-persyaratan dalam spesifikasi.
  • Tetapi jika lapisan tersebut secara konsisten lebih tebal daripada ketebalan rencana pada suatu ukuran panjang dari lapis pondasi atas sedemikian rupa, hingga toleransi-toleransi permukaan tidak terlampaui dan mutu lintasan diatas permukaan (indeks permukaan) adalah memuaskan, maka Engineer dapat menerima suatu lapisan semacam itu untuk dimasukkan dalam pekerjaan, asal saja ini sesuai dengan persyaratan-persyaratan lain yang ditetapkan dalam spesifikasi.
  • Lapis pondasi atas dengan stabilisasi semen yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan kadar semen, kepadatan atau kekuatan yang ditetapkan dalam spesifikasi, harus dibongkar untuk dibuang dan digantikan dengan bahan-bahan baru, ditempatkan dan dipadatkan sesuai dnegna spesifikasi.
  • Dimana pekerjaan pembetulan telah diperintahkan oleh Engineer, maka ini harus dilaksanakan oleh kontraktor atas biaya sendiri dan jumlah yang akan diukur harus merupakan jumlah yang telah dibayar/telah dibayar jika pekerjaan semula telah diterima.
  • PEMELIHARAAN

    Pihak kontraktor sebagai pelaksana harus melaporkan kepada direksi, jika pekerjaan telah selesai dilaksanakan. Sambil menunggu perintah lebih lanjut, kontraktor harus tetap memelihara pekerjaan yang telah dilaksanakan tersebut.

    Jika terjadi kerusakan pada saat menunggu perintah akan pekerjaan lebih lanjut, maka kontraktor berkewajiban melakukan perbaikan dan pemadatan kembali.

    Semua kewajiban kontraktor dalam periode pemeliharaan diatur dalam kontrak, didalam pasal mengenai pemeliharaan.

    Baca Juga : Lapis Pondasi Atas Menggunakan Material Agregat.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates