Home / Contact / Lapis Penutup Menggunakan Laston
176 views

Lapis Penutup Menggunakan Laston

Gambar : Lapis Penutup Menggunakan Laston

Gambar : Lapis Penutup Menggunakan Laston

Lapis penutup menggunakan Laston

Aspal beton (Asphalt Concrete atau AC) yang disebut juga dengan Laston (Lapisan Aspal Beton) merupakan lapis permukaan struktural atau lapis pondasi atas.

Aspal beton terdiri dari tiga macam lapisan, yaitu Laston Lapis Aus ( Asphalt Concrete-Wearing Course atau AC-WC), Laston Lapis Permukaan Antara (Asphalt Concrete – Binder Course atau AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (Asphalt Concrete- Base atau AC-Base).

BAHAN

1.  Agregat Kasar

Bagian agregat yang tertahan pada saringan No. 8 dan terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah, disebut agregat kasar. Hanya satu macam agregat kasar yang boleh digunakan, kecuali atas persetujuan pengawas. Batu pecah atau kerikil pecah untuk lapis penutup menggunakan Laston harus terdiri dari bahan yang bersih, kuat, awet dan bebas dari kotoran-kotoran atau bahan lain yang tidak dikehendaki dan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 500 putaran (PB.0206-76) : maks. 40%
  • Kelekatan terhadap aspal (PB.0205-76) : Min. 95%.
  • Bila digunakan kerikil pecah, berat agregat yang tertahan saringan No. 4 yang mempunyai paling sedikit 1 bidang pecah : min. 50%.
  • Indeks kepipihan (BS) : Maks. 25%
  • Peresapan terhadap air (PB.0202-76) : Min. 3%
  • Berat jenis semu/apparent (PB.0202-76) : Min. 2,5%
  • Gumpalan-gumpalan lempung (AASHTO T 112) : Maks. 0,25%

2.  Agregat Halus

Bagian agregat lolos saringan No. 8 disebut agregat halus dan harus terdiri dari pasir bersih atau bahan halus hasil pemecahan batu atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut.
Bahan halus hasil pemecahan batu kapur untuk lapis penutup menggunakan Laston hanya boleh digunakan apabila dicampur dengan pasir dalam jumlah yang sama, kecuali apabila menurut pengalaman bahan tersebut tidak aus oleh roda kendaraan. Agregat halus harus terdiri dari bahan yang bersih, kuat, berbidang kasar, bersudut tajam, dan bebas dari gumpalan-gumpalan lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki.

Agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Nilai Sand : Equivalent (AASHTO T – 176) : min. 50.
  • Berat jenis semu (Apparent) (PB 0203 – 76) : min. 2,50.
  • Batas Atterberg (PB. 0109 – 76) dan (PB.01010 – 76) : non plastis.
  • Peresapan agregat terhadap air (PB.0202-76) : maks. 3%.

3.  Filler

Apabila Filler diperlukan untuk lapis penutup menggunakan Laston, filler tersebut harus terdiri dari debu batu kapur, debu dolomit, semen portland, atau bahan non palstis lainnya dari sumber yang disetujui pengawas.
Bahan tersebut harus bebas dari kotoran atau bahan lain yang tidak dikehendaki dan harus kering. Apabila diperiksa sesuai dengan cara PB. 0201 – 76, Filler harus mempunyai gradasi sebagai berikut :

Ukuran Saringan % Berat Lolos
No. 30 (0,590 mm) 100
No. 50 (0,249 mm) 95 – 100
No. 100 (0,149 mm) 90 – 100
No. 200 (0,074 mm) 70 – 100

4.  Aspal Keras

Aspal keras yang digunakan untuk lapis penutup menggunakan Laston dapat berupa aspal keras Pen. 60 atau Pen. 80

5.  Aspal Cair Emulsi

Apabila Pengawas tidak menentukan lain untuk keperluan lapis resap pengikat (prime coat) dapat digunakan aspal cair jenis : MC-30, MC-70, MC-250 atau aspal emulsi Jenis CMS, MS.
Sedangkan untuk keperluan  lapis  pengikat  (tack  coat)  dapat  digunakan  aspal  cair  jenis : RC-70, RC-250 atau aspal emulsi jenis : CRS, RS.

PERALATAN

1.  Mesin Pencampur

Semua peralatan produksi campuran harus dari jenis yang tepat dikoordinasi sebaik-baiknya dan dijalankan sesuai dengan aturan yang seharusnya agar selalu memberikan hasil campuran yang mempunyai mutu dalam batas-batas ijin yang telah ditetapkan.
Mesin pencampur, baik tipe batch atau tipe kontinue, harus mempunyai kemampuan produksi yang cukup untuk melayani mesin penghampar agar pada kecepatan normal dapat secara menerus menghampar dengan tebal yang dikehendaki.

2.  Feeder

Alat-alat feeder untuk agregat harus memadai dalam mutu dan jumlah agar agregat yang dimasukkan kedalam pengering mencapai keseragaman dalam jumlah dan suhu yang dipersyaratkan.

3.  Pengering

Suatu pengering yang berputar harus bekerja sempurna dan telah dipelihara dengan baik dan dapat memberikan suhu yang disyaratkan.

4.  Saringan

Saringan yang dapat menghasilkan agregat dengan ukuran yang sesuai dengan yang dipersyaratkan harus disediakan dan dipelihara dengan baik. Alat ini harus memberikan hasil saringan dengan variasi ukuran butir tidak lebih dari 10% lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

5.  Bin

Bin harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk melayani pengaduk pada saat bekerja maksimum, paling tidak harus terdiri dari 3 kamar terpisah.
Tiap kamar harus dilengkapi dengan alat pembuang yang bekerja dengan baik, bila telah penuh tanpa menimbulkan tercampurnya agregat dan macam-macam ukuran.

6.  Unit Kontrol Aspal

Alat yang bekerja dengan sistem timbangan atau meteran harus disediakan untuk menakar jumlah aspal yang perlu untuk campuran. Pada tiap saat alat tersebut harus diperiksa agar kecepatan pengaliran atau jumlah aspal tetap dalam batas-batas yang diijinkan.

7.  Termometer

Termometer yang dapat mengukur suhu dari 38º C sampai 205 º C, harus ditempatkan pada pipa penyalur aspal didekat kran keluar. Baik dari macam dial, mercury, pyrometer,  atau lainnya masing-masing ditempatkan pada pengering, pencampur dan bagian-bagian lain yang memerlukan ketepatan suhu.

8.  Penampung Debu

Mesin pencampur aspal harus dilengkapi dengan penampung debu yang dipasang sedemikian rupa untuk membuang atau mengembalikan bahan-bahan lebih dalam proses pencampuran.

9.  Alat Kontrol Waktu Pencampuran

Mesin pencampur aspal harus dilengkapi dengan alat yang mengontrol waktu pencampuran yang dapat diatur sesuai dengan petunjuk pengawas.

10.  Laboratorium Lapangan

Pelaksana harus menyediakan dan memelihara laboratorium lapangan. Letak laboratorium tersebut harus sedemikian, agar mudah terlihat semua bagian-bagiannya. Mesin-mesin yang bergerak harus terlindung agar tidak membahayakan petugas.

11.  Perlengkapan keselamatan

Tangga yang baik ke lantai mesin pencampur yang dilengkapi dengan sandaran-sandaran yang kokoh harus dipasang menghubungkan tempat-tempat yang diperlukan kemudahan operasi mesin. Semua bagian-bagian mesin yang bergerak harus terlindung agar tidak membahayakan petugas.

Persyaratan Khusus untuk mesin pencampur tipe batch

1.  Kotak Penimbang (Weiqh Box)

Perlengkapan mesin pencampur aspal, harus mencakup pula kotak penimbang atau hoper untuk  menakar agregat secara tepat. Kotak penimbang atau hoper harus bekerja dengan baik tanpa terganggu peralatan lain. Sistem menutup dan membuka alat ini harus diperhatikan agar tidak ada kebocoran dan pengendapan bahan.

2.  Pengaduk

Pengaduk tersebut harus mempunyai kapasitas tidak kurang dari  ½ kapasitas bin atau harus diperhitungkan sedemikian rupa agar menjamin kelangsungan bekerjanya serta harus terpelihara dari segala kemungkinan terjadinya kebocoran.

Yang bukan tipe tertutup, harus dilengkapi dengan alat untuk mencegah filler terbuang. Alat ini juga harus mempunyai sistem penyekat yang baik selama periode-periode pencampuran basah dan kering. Periode pencampuran basah adalah periode antara saat pemberian aspal dengan saat pintu pengaduk  dibuka. Alat-alat ini harus dilengkapi dengan sayap-sayap untuk mengaduk campuran secara sempurna.

Jarak antara sayap-sayap ini dengan bagian lain pengaduk tidak boleh lebih dari 2 cm, kecuali apabila digunakan agregat yang mempunyai ukuran yang lebih besar dari 2,5 cm (1 inci), dimana jarak tersebut bisa diatur agar pada saat pencampuran agregat kasar tidak hancur.

Persyaratan Khusus Mesin Pencampur  Tipe Kontinue

1.  Alat Kontrol Gradasi

Mesin pencampur harus dilengkapi dengan perlengkapan untuk menakar secara tepat tiap fraksi agregat yang telah ditetapkan, baik secara penimbangan atau secara pengukuran volume. Bila pengontrolan gradasi dilakukan dengan takaran volume, alat tersebut harus dilengkapi dengan feeder yang ditempatkan dibawah bin. Tiap-tiap bin harus dilengkapi dengan lubang-lubang yang berukuran kira-kira 20 – 50 cm dimana satu sisi dapat diatur dan diberi alat pengunci. Indikator pada sisi yang diatur ini, akan menunjukkan besarnya lebar lubang pada saat terbuka.

2.  Kalibrasi Berat untuk Feeder Agregat

Harus disediakan alat kalibrasi untuk memeriksa lubang pengeluaran bin dengan cara pemeriksaan besar dan contoh bahan yang dikeluarkan dari bin. Harus diusahakan untuk dapat mengeluarkan dengan lancar contoh bahan campuran dari semua bin sebesar 150 kg atau lebih dan kira-kira 50 kg untuk tiap bin.

3.  Sinkronisasi Penakaran Agregat dan Aspal

Harus tersedia alat yang mengatur pengaturan aspal dan pemberian agregat sedemikian rupa agar didapat hasil yang optimal. Alat ini harus bekerja dengan sitem mengenai dengan kokoh.

4.  Unit Pencampur (Unit Mixer) dengan Sistem Kontinue

Mesin pencampur dengan sitem kontinue terdiri dari pugmil-kembar sistem-jacketed yang dapat memberikan hasil campuran seperti yang disyaratkan. Sayap-sayap hendaknya dari tipe yang dapat disetel untuk kedudukan miring terhadap as dan dapat dibalik untuk menahan pengaliran campuran. Penentuan lama waktu mencampur harus ditetapkan atas dasar berat dan dengan menggunakan rumus dibawah ini :

                                                                           Kapasitas dalam kg
lama waktu mencampur (detik)  =  ——————————————–
                                                                Output pugmill dalam kg/detik

5.  Hoper

Mesin pencampur harus dilengkapi dengan Hoper pada ujung pengeluaran hasil campuran, dari ukuran dan yang dibuat sedemikian rupa agar pemisahan bahan (segregasi) tidak terjadi. Elevator untuk keperluan pemuatan campuran juga harus mempunyai Hoper yang sesuai.

Alat-alat Pengangkut, Mesin Penghamparan dan Mesin Gilas

1.  T r u k

Bak truk yang digunakan untuk mengangkut adukan harus rapat, bersih dan terbuat dari betal yang telah disemprot dengan air bersih dan terbuat dari metal yang telah disemprot dengan air sabun, fuel oil, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya aspal dengan alas bak. Tiap truk harus dilengkapi dengan tutup kanvas untuk melindungi adukan dari pengaruh cuaca (hujan). Truk-truk yang ternyata menyebabkan pemisahan bahan adukan akibat dari sitem pegas atau getaran-getaran atau faktor-faktor lain atau yang menyebabkan kelambatan, tidak boleh dipergunakan sampai kerusakan tersebut diperbaiki seperlunya. Bila perlu truk harus dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan  yang cukup agar temperatur adukan dapat dipertahankan.

2.  Mesin Penghampar

Alat-alat yang digunakan untuk menghampar dan meratakan harus dari tipe yang sesuai dengan kondisi ditempat dan dalam pandangan Pengawas cukup memenuhi syarat. Hasil hamparan dan perataan itu harus berbentuk sesuai dengan gambar rencana, halus dan rata. Bila dalam pelaksanaan ternyata mesin tersebut menunjukkkan hasil yang kurang baik, maka pengawas berwenang untuk menunda pekerjaan atau memerintahkan untuk memperbaiki/mangganti mesin tersebut.

3.  Mesin Gilas

Alat-alat untuk pemadatan harus terdiri dari minimum sebuah tandem roller dan sebuah pneumatic tired roller. Mesin gilas janis lainnya dapat juga digunakan bila disetujui oleh pengawas. Penggunaan alat-alat yang menyebabkan bahan hancur, tidak boleh digunakan.

4.  Alat-alat Bantu

 Pelaksana harus menyediakan alat-alat bantu (roda dorong, balok kayu, catok, blencong garpu, sekop  dan sebagainya) yang perlu dan dipelihara agar tetap bersih dan berfungsi sempurna. Cara pembersihan dapat dilakukan dengan bahan-bahan pembersih yang sama dengan bahan-bahan yang digunakan untuk pembersihan bak truk. Juga disediakan kanvas-kanvas untuk keperluan menutupi pekerjaan, bahan atau alat-alat terhadap hujan atau dengan maksud mempertahankan temperatur campuran.

CARA PELAKSANAAN

a.  Cuaca

Campuran untuk lapis penutup menggunakan Laston hanya boleh dihampar apabila permukaan jalan benar–benar kering, cuaca tidak berkabut atau hujan serta apabila permukaan jalan dalam keadaan memuaskan. 

b.  Kecepatan Kerja

Pekerjaan tidak boleh diselenggarakan apabila perlatan pengangkutan, mesin penghampar atau mesin gilas atau buruh tidak memungkin untuk menjamin unit pencampur dapat bekerja dengan kecepatan produksi minimum 60% kapasitasnya.

c.  Persiapan Aspal

Aspal harus dipanaskan dalam ketel atau tangki.
Temperatur yang disyaratkan Pen 60 : 130o C – 165o C
Pen 80 : 124o C – 162o C
Dan harus dihindarkan pemanasan terpusat pada tempat–tempat tertentu
Pemanasan aspal tersebut harus diusahkan agar secara menerus dapat melayani

d.  Persiapan Agregat

Sebelum pengadukan, agregat yang akan digunakan dalam campuran harus dikeringkan dan dipanaskan. Bunga api untuk pengeringan dan pemanasan hendaknya diatur sedemikian rupa agar aregat tidak menjadi ruask atau terselimuti jelaga. Setelah dipanaskan agregat disaring menjadi 3 fraksi atau lebih dan diangkut ke bin–bin yang terpisah dan siap dicampur dengan aspal. Pencampuran hendaknya dilakukan pada temperatur yang disyaratkan dan bagaimanapun temperatur agregat harus lebih tinggi (perbedaan maksimum 15o C). Temperatur aspal filles, bila diperlukan, dapat ditakar tersendiri atau bersasma–sama dengan agregat halus lainnya. Filler tidak diizinkan untuk disebarkan atau dijatuhkan dari tempat ketinggian.

e.  Persiapan Pengadukan

Agregat yang telah disiapkan seperti diatas, ditakar sesuai rumusan pencampuran. Bahan aspal ditakar dalam jumlah yang tepat yang ditetapkan oleh pengawasan dan dimasukkan kedalam campuran. Bila menggunakan batching plan, campuran agregat terlebih dahulu harus diaduk, kemudian aspal dalam jumlah yang telah ditetapkan ditambahkan dalam campuran itu dan keseluruhannya diaduk untuk paling sedikit 45 detik atau bila perlu lebih lama agar semua butir agregat telah terselimuti dengan aspal. Waktu pengadukan akan ditentukan oleh pengawasan, atau apabila pengawas tidak menentukan lain, harus tetap mengikuti ketentuan tadi.

f.  Pengangkutan Campuran

Campuran harus diangkut dengan kendaraan yang beroda karet (pnematic tired vehicles) dan mempunyai konstruksi yang kokoh tidak banyak bergetar atau sebelum digunakan, baknya harus selalu dibersihkan dari kotoran atau bahan–bahan lepas lainnya. Bila dikehendaki oleh Pengawas, kendaraan tersebut harus dilengkapi dengan kanvas untuk melindungi campuran terhadap pengaruh cuaca.
Pada saat campuran tiba ditempat pekerjaan, campuran tersebut harus mempunyai temperatur dalam batas–batas yang diizinkan untuk tiap macam aspal yang digunakan.
Pengangkutan campuran harus diatur agar kedatangannya dilapangan tidak menyebabkan pekerjaan tertunda atau menyebabkan penkerjaan dilakukan sampai malam, kecuali bila alat–alat penerangan yang cukup sudah disediakan.

g.  Penghamparan dan Perataan

1.  Persiapan Penghamparan

Menjelang penghamparan, permukaan jalan harus dibersihkan dari bahan–bahan lepas dan kotoran lainnnya. Penghamparan hendaknya dimulai dari posisi yang terjauh dari kedudukan unit pencampur, dan maju kearah unit pencampur tersebut, kecuali ada pengaturan khusus yang dikehendaki oleh pengawas. Apabila menurut gambar rencana atau petunjuk pengawas, diperlukan lapis pengikat maka harus dilakukan sesuai ketentuan. Pada kedatangannya ditempat pekerjaan, campuran harus segera dihampar, dibentuk sesuai dengan penampangan melintang pada gambar rencana.

2.  Mesin Penghampar dan Perata

Penempatan dan perataan campuran yang dikerjakan pada potongan–potongan jalan yang mempunyai panjang tidak lebih dari 1.0 Km. Mesin penghampar harus bekerja sebagaimana yang dianjurkan oleh pabrik pembuatnya, dalam kecepatan maupun prasarananya.

3.  Perataan secara Manual

Pada tempat–tempat dimana mesin penghampar tidak mungkin digunakan secara sempurna atas persetujuan pengawas, penghamparan dan perataan dapat dikerjakan secara manual. Dalam hal ini alat–alat pembantu untuk mencapai tebal yang seragam dan keratan permukaan harus disesuaikan dan dipelihara dengan baik. 

h.  Pemadatan

Setelah campuran dihampar, permukaanya harus segera diperiksa untuk mengontrol kerataan, bentuk dan ketebalannya, dimana bila perlu harus segera diperbaiki.

Pemadatan dapat dilaksanakan apabila hamparan benar–benar dalam kondisi yang dikehendaki serta apabila pengawasan berpendapat bahwa pemadatan tidak akan menyebabkan lendutan, retak–retak atau penggelombangan.

Pemadatan awal dikerjakan pada temperatur 110C (±10”C ) dengan mesin gilas tandem 2 atau 3 as, yang bekerja dibelakang alat penghampar, dan yang mempunyai berat sedemikian agar adukan tidak melendut atau atau menggelombang.

Setelah pemadatan awal selesai (temperatur kira–kira 70C ), lapisan tadi dipadatkan dengan mesin gilas roda karet. Pemadatan akhir harus dikerjakan dengan mesin gilas tandem (berat minimum 8 ton) pada temperatur kira–kira 60oC .

Pemadatan pada lapis penutup menggunakan Laston hendaknya dimulai dari tepi, berangsur–angsur, bergeser ketengah, (pada tikungan, pemadatan dilakukan mulai dari bagian yang rendah bergeser menuju bagian yang tinggi), dengan arah sejajar di jalan dengan jejak roda harus saling menutup pada lebar yang cukup (over lapping).

Perubahan, kerusakan–kerusakan yang mungkin terjadi harus segera diperbaiki. Untuk mencegah butir–butir campuran melekat pada roda mesin gilas, roda tersebut harus selalu dibasahi dengan air.

Baca : Mesin Stamper dan Cara Penggunaannya.

Pada tempat–tempat dimana roller tidak dapat bekerja karena sempitnya ruangan atau adanya rintangan–rintangan, maka lapisan campuran harus dipadatkan dengan alat pemadat tangan (manual atau machinal) berat minimum 10 kg dan luas bidang kotak minimal 30 cm2.

Pemadatan hendaknya berjalan terus menerus untuk mencapai kepadatan yang merata selama campuran masih dalam batas–batas temperatur pelaksanaan, dan sedemikian rupa sehingga garis–garis/tanda–tanda akibat pemadatan tidak terlihat lagi.

Permukaan lapis penutup menggunakan Laston sesudah penggilasan hendaknya halus dan rata, berbentuk sesuai dengan kemiringan yang disyaratkan.

Bagian lapisan yang ternyata menjadi lepas–lepas (tidak nampak gejela pelekatan), tercampur dengan debu atau kotoran, atau rusak oleh sebab–sebab lain, harus segera dibuang dan diganti dengan campuran yang baru, dan harus segera dipadatakan agar menjadi satu kesatuan dengan lapisan sekelilingnya.

Bagian permukaan dengan luas lebih dari 0.25 m persegi yang menunjukkan kekurangan atau kelebihan aspal harus dibongkar dan diganti.

Kepadatan lapis penutup menggunakan Laston, bila diperiksa dengan cara AASHTO T 166, harus tidak kurang dari 95% kepadatan yang dicapai di laboratorium dengan bahan dan perbandingan yang sama (ASTM D 1883).  Pada waktu pemadatan pelaksana hendaknya membentuk pinggiran sedemikian rupa sehingga tampak rapih dan sesuai Gambar Rencana.

i.  Sambungan

Penghamparan dan pemadatan pada lapis penutup menggunakan Laston sejauh mungkin diusahakan agar berlangsung kontinue dan tidak nampak sambungan–sambungan. Mesin gilas hanya boleh menginjak garis akhir penghamparan apabila atas persetujuan pengawas. Bila sambungan harus diadakan, hendakanya diperhatikan agar dicapai pelekatan yang sempurna pada seluruh tebal lapisan. Penempatan campuran yang baru berdampingan dengan lapisan yang telah dipadatkan hendaknya mempertahankan bidang kontak agar tegak/vertikal (antara lain dengan cara memotong tegak lapisan terdahulu). Untuk menambah pelekatan pada bidang kontak sambungan, hendaknya bidang kontak tersebut diberi lapis pengikat.

j.  Tebal yang disyaratkan

Tebal lapis penutup menggunakan Laston, harus sesuai dengan yang tercantum dalam gambar rencana dengan toleransi – 5 mm atau sebagaimana yang ditetapkan oleh pengawas.
Pengukuran tebal lapis penutup menggunakan Laston, hendaknya dilakukan sebelum dan sesudah lapisan digilas, agar diperoleh gambaran hubungan antara tebal penghamparan dan tebal akhir lapisan.
Tebal lapisan kemudian diontrol dengan pengukuran tebal lapisan yang baru dihampar dibelakang mesin penghampar.

k.  Pemeriksaan Permukaan

Setelah pemadatan awal, permukaan harus segera diperiksa dengan mal lengkung (template) dan mal datar (straightadges) 4 m yang harus disediakan oleh pelaksana, masing–masing untuk memriksa kerataan arah melintang dan arah memanjang.
Perbedaan dalam hal ini harus tidak lebih dari 3 mm atau sesuai dengan petunjuk pengawas. Permukaan ini harus segera ditambah atau dipotong sesuai kebutuhannya, kemudian pemadatan dilanjutakan hingga selesai.  Permukaan akhir harus juga diperiksa dengan cara tersebut. Bila masih terjadi perbaikan–perbaikan, maka cara dan pelaksanaannya harus sesuai denga petunjuk pengawas.

PENGUJIAN MUTU

  1. Pengujian terhadap analisa saringan agregat dan material agregat yang diusulkan untuk digunakan.
  2. Material agregat yang lolos sariangan/pengujian ditempatkan pada kelompok yang siap pakai .
  3. Pengujian laboratorium terhadap material aspal yang akan digunakan .
  4. Daftar harian dari temperatur aspal untuk setiap jam penyiraman aspal atau setiap waktu–waktu tertentu seperti yang ditentukan oleh Pengawas. 

DIMENSI

Tebal lapis penutup menggunakan Laston sebagai lapisan penutup berkisar antara 5 sampai 10 cm. Jika tebalnya 10 cm, maka penghamparan dilakukan sebanyak 2 kali masing–masing setebal 5 cm.

PERBAIKAN KESALAHAN

Pekerjaan lapis penutup menggunakan Laston yang telah selesai harus dapat memuaskan Pengawas Teknik.
Pekerjaan perbaikan lapis penutup menggunakan Laton yang tidak memuaskan atau bila ada kesalahan sesuai petunjuk Pengawas Teknik dan termasuk pula bagian pekerjaan penyingkiran atau penambahan material.
Bila terjadi ketidak sesuaian hasil pekerjaan dengan persyaratan yang telah ditetapkan, pelaksana diwajibkan untuk memperbaiki hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan petunjuk Pengawas. Segala biaya dan resiko akibat perbaikan tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana.

PEMELIHARAAN

Pihak Pelaksana harus pula bertanggung jawab terhadap pekerjaan pemeliharaan rutin atas semua pekerjaan yang telah diselesaikan dan telah diterma selama Periode Kontrak termasuk Periode Jaminan (Warranty Period).

Baca Juga : Lapis Penutup Menggunakan Lapen.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates