Home / Contact / Pondasi Bawah Menggunakan Sirtu Yang Mengandung Sedikit Tanah
684 views

Pondasi Bawah Menggunakan Sirtu Yang Mengandung Sedikit Tanah

Pondasi Bawah Menggunakan Sirtu Yang Mengandung Sedikit Tanah

Pondasi Bawah Menggunakan Sirtu Yang Mengandung Sedikit Tanah

Pondasi Bawah Menggunakan Sirtu Yang Mengandung Sedikit Tanah

Adalah suatu lapisan pekerasan jalan yang terletak diantara lapis pondasi atas (base) dan tanah dasar (Sub Grade).

Tujuan lapis  pondasi bawah menggunakan sirtu yang mengandung sedikit tanah adalah mendukung  lapis  perkerasan  jalan  diatasnya.

Fungsi dari lapis pondasi bawah menggunakan sirtu yang mengandung sedikit tanah ini antara lain yaitu:

  1. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda.
  2. Mencapai effisiensi penggunaan material yang relatip murah agar lapisanlapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi).
  3. Untuk mencegah tanah dasar masuk kedalam lapis pondasi.
  4. Sebagai lapisan peresapan (drainage blanket sheet) agar air tanah tidak mengumpul dipondasi maupun ditanah dasar.
  5. Sebagai lapisan pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.

BAHAN

Lapis pondasi bawah menggunakan sirtu yang mengandung sedikit tanah merupakan lapis perkerasan lainnya yang bisa dipakai untuk pondasi bawah (sub base). Bila kandungan tanah terlalu banyak, diatasnya perlu diamankan dengan lapisan steen slag (batu pengisi) setebal setengah atau sepertiga lapisan yang direncanakan.
pekerjaan diatas dikerjakan secara manual yaitu dengan tenaga manusia. Apabila pekerjaan dilaksanakan dengan mesin penuh (full mechanical) maka bahan yang digunakan adalah sirtu pecah (crushed pit run) atau batu pecah (crushed stoned).

PERALATAN

  • Tendem Roller 6 – 8 ton atau Three Wheel roller 6 – 8 ton
  • Pneumatic Tired Roller 10 – 12 ton
  • Sapu, sikat, karung
  • Pengki, emrat
  • Truk, sekop, kereta dorong dan alat bantu lainnya.

CARA PELAKSANAAN

Pelaksanaannya dikerjakan secara manual atau secara mechanical. Material sirtu yang akan digunakan harus sudah tersedia dilokasi penghamparan sebelum pekerjaan dimulai. pengaturan penyimpanan material harus sedemikian rupa agar terjaga kebersihan dan kemudahan pelaksanaan pekerjaan.

Penebaran Sirtu:

Penebaran sirtu dapat dilakukan dengan pengki sedemikian rupa sehingga merata dan sesuai dengan jumlah sirtu (persatuan luas) yang direncanakan.

Pemadatan Sirtu :

Sebaiknya agregat pokok dipadatkan dengan mesin gilas besi roda tiga 6 – 8 ton dengan kecepatan k.l  3 km/jam sampai kedudukan sirtu merata.

PENGUJIAN MUTU

Pengujian mutu harus dilakukan untuk mencapai hasil pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan. Suatu program pengujian pengendalian mutu rutin terhadap material akan dilaksanakan untuk memeriksa variabilitas material yang di bawah ketempat pekerjaan. Jumlah pengujian harus sesuai petunjuk direksi teknik, tetapi untuk setiap 1000 meter kubik material yang dihasilkan, pengujian harus meliputi paling sedikit lima (5) pemeriksaan indeks plastisitas dan lima (5) pemeriksaan gradasi.

Baca : Agregat Kasar (Split) : Parameter.

Seluruh material agregat harus bebas dari benda-benda tetumbuhan dan gumpalan lempung dan benda yang tidak berguna lainnya.

Standar Rujukan untuk Pengujian :

  1. British Standard B3 812 : Metode pengambilan contoh dan pengujian agregat, pasir dan filler.
  2. AASHTO Standard :
  • T96   – 74  Abrasion test dengan menggunakan mesin Los Angeles
  • T112  – 78  Gumpalan lempung dalam agregat
  • T113  – 82  Butiran ringan dalam agregat
  • T193 – 82  CBR

DIMENSI

Untuk lantai kerja digunakan pasir urug dengan tebal lapisan 10 cm – 20 cm. Tebal lapisan sirtu dapat diambil setebal 20 -30 cm.

PERBAIKAN KESALAHAN

Kesalahan yang terjadi bisa pada material atau pada pelaksanaan pekerjaan. Jika material yang didatangkan ke lokasi tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan maka material tersebut harus diganti dengan yang memenuhi syarat.
Kesalahan pelaksanaan bisa terjadi pada jumlah lintasan pemadatan yang kurang sehingga kepadatan lapisan sirtu kurang.
Atas kesalahan-kesalahan tersebut perlu perbaikan dengan pengawasan dari direksi teknik atau staf yang ditunjuk olehnya.

PEMELIHARAAN

Pihak kontraktor pelaksana harus memelihara pekerjaan yang selesai dikerjakan sepanjang waktu yang telah ditentukan dalam kontrak.
Jika ada kerusakan-kerusakan dalam periode pemeliharaan maka perbaikan yang dilakukan adalah menjadi tanggung jawab pihak kontraktor.
Jika kerusakan terjadi pada saat proyek sudah diserahkan kepada penanggung jawab (PU yang berkaitan) maka pihak penanggung jawablah yang berkewajiban memperbaiki.

Baca Juga : Pondasi Bawah Menggunakan Batu Belah Dengan Balas Pasir.

2 comments

  1. terimakasih banyak ilmu nya sangat bermanfaat sekali hal seperti ini jarang diketahui banyak orang termasuk saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates