Home / Contact / Lapis Pondasi Atas Sistem Telford
272 views

Lapis Pondasi Atas Sistem Telford

Gambar : Lapis Pondasi Atas Sistem Telford

Gambar : Lapis Pondasi Atas Sistem Telford

Lapis Pondasi Atas Sistem Telford

Lapis pondasi atas sistem Telford adalah Lapis perkerasan jalan yang terletak di atas lapis pondasi bawah (sub base) dan di bawah lapis penutup (sub bace course).

Tujuan penggunaan lapis pondasi atas sistem Telford adalah mendukung lapis perkerasan penutup dan beban-beban roda yang bekerja diatasnya serta menyebarkan (menyalurkan) beban-beban yang diterimanya kepada lapis pondasi bawah yang terletak dibawahnya.

Fungsi lapis pondasi atas sistem Telford adalah sebagai bagian perkerasan yang meneruskan dan menyebarkan beban dari lapis permukaan (surface course) kebagian konstruksi dibawahnya.

BAHAN

Pada pondasi atas sistem Telford, batu-batu yang digunakan dapat berupa batu kali atau batu gunung yang disusun beraturan dan serapat mungkin.

Kemudian sela-sela batu itu diisi dengan batu pengunci (bisa batu kali atau batu pecah) sehingga susunannya cukup kuat dan kokoh, kemudian baru diisi pasir kasar dan dipadatkan.

PERALATAN

  • Tandem Roller 6 – + – 8 ton atau Three Wheel Roller 6 – + – 8 ton
  • Pneumatic Tired Roller 10 – + – 12 ton
  • Sabu, Sikat, Karung
  • Pengki, Emrat
  • Truk, Kereta dorong, sekop dan alat bantu lainnya

CARA PELAKSANAAN

Cara Telford untuk pembuatan lapis pondasi atas dapat digunakan apabila tenaga manusia masih murah dan peralatan masih sederhana. Di negara-negara yang sudah maju dengan terdapatnya peralatan pembuatan jalan dan meningkatnya harga tenaga manusia, cara telford dipandang tidak ekonomis dan tidak dipergunakan lagi. Jadi pelaksanaan konstruksi lapis pondasi atas sistem telford dilakukan secara manual.

Baca : Pentingnya Mengetahui Kepadatan Tanah.

Diatas lapis sub base yang telah dipadatkan, dihambar pasir urug setebal 10 – + – 20 cm. Diatas pasir urug yang telah diratakan tersebut disusun batu kali atau batu gunung ukuran 15/20 – + – 25/30 secara berdiri (bidang memanjang arah vertikal, rapih dan beraturan).

Setelah itu permukaan dipadatkan sehingga rata dan cukup padat. Kemudian diatasnya ditabur pasir kasar dan dipadatkan hingga permukaan mencapai bidang rata dan susunan konstruksi cukup kuat dan kokoh.

Sebaikanya pasir dipadatkan dengan mesin gilas tandem 6 – + – 8 ton dengan kecepatan ± 3 km/jam sampai kedudukan pasir kasar merata.

PENGUJIAN MUTU

Pengujian mutu harus dilakukan untuk mencapai hasil pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan. Suatu program pengujian pengendalian mutu rutin terhadap material akan dilaksanakan untuk memeriksa variabilitas material yang dibawah ketempat pekerjaan.

Jumlah pengujian harus sesuai petunjuk direksi teknik, tetapi untuk setiap 1000 meter kubik material yang dihasilkan. Pengujian harus meliputi paling sedikit lima (5) pemeriksaan indek plaslisitas dan lima (5) pemeriksaan gradasi.

Seluruh material pasir kasar harus bebas dari benda tetumbuhan, gumpalan lempung atau benda yang tidak berguna lainnya.

Standard rujukan untuk pengujian :

  1. British Standard B3 812 : Metode pengambilan contoh dari pengujian agregat, pasir dan filler.
  2. Aastho Standard :
  • T96  – 74, Abrasion Test dengan menggunakan mesin Los Angeles.
  • T112 – 78, Gumpalan lembung dalam agregat
  • T113 – 81, Butiran ringan dalam Agregat
  • T193 – 82, CBR

DIMENSI

Untuk lantai kerja digunakan pasir urug dengan tebal lapisan  10 –  + – 20 cm. Untuk lapisan batu utama (batu induk) dapat digunakan batu kali atau batu gunung ukuran 15/20 – + – 25/30. Sebagai lapis penutup digunakan pasir kasar.

Sebagai tambahan penjelasan dapat disebutkan bahwa akibat beban roda dan arah vertikal, menimbulkan gaya desak mendesak (gaya Telford) yang mengakibatkan lapisan batu induk berdiri kokoh saling mendesak.

PERBAIKAN KESALAHAN

Kesalahan yang terjadi bisa pada material atau pada cara pelaksanaan pekerjaan. Jika material yang didatangkan dilokasi tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan maka material tersebut harus diganti dengan yang memenuhi syarat.

Kesalahan pelaksanaan bisa terjadi pada cara pemasangan batu utama/induk yang tidak betul, tidak vertikal, sehingga tidak ada kerjasama antara bantuan induk tersebut.

Pemasangan yang tidak beraturan ini dianggap gagal, harus dibongkar dan dipasang kembali degan posisi yang betul.

Jika jumlah lintasan pemadatan kurang, sehingga kepadatan lapisan tidak mencapai seperti apa yang telah ditentukan. Untuk itu pemadatan harus ditambah hingga lapisan sungguh-sungguh padat dan kokoh.

Direksi teknik atau sraff yang ditunjuknya berwenang mengoreksi kesalahn-kesalahan yang terjadi dan mengawasi perbaikannya.

PEMELIHARAAN

Pihak kontraktor pelaksana harus memelihara pekerjaan pekerjaan yang telah dinyatakan selesai dikerjakan sepanjang periode pemeliharaan yang telah ditentukan dalam kontrak atau sampai suatu pekerjaan lapisan surfase/penutup akan dimulai.

Jika ada kerusakan-kerusakan selama periode pemeliharaan tersebut pihak pelaksana berkewajiban melakukan perbaikan-perbaikan.

Baca Juga : Laston Bawah atau Pondasi Bawah yang Menggunakan Material ATSB.

2 comments

  1. Hi. I have checked your trigonometriconsultant.com and
    i see you’ve got some duplicate content so probably it is the reason that
    you don’t rank high in google. But you can fix this issue fast.
    There is a tool that generates articles like human, just search in google:
    miftolo’s tools

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates