Home / Contact / Drainase Permukaan (Surface Drainage)
795 views

Drainase Permukaan (Surface Drainage)

Gambar : Drainase Permukaan

Gambar : Drainase Permukaan

Drainase Permukaan adalah sistem drainase yang berkaitan dengan pengendalian aliran air permukaan.
Drainase permukaan berfungsi untuk mengalirkan air hujan atau genangan air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan yang kemudian dialirkan melalui saluran samping menuju saluran pembuangan akhir, sehingga dapat mencegah kerusakan pada perkerasan jalan dan kerusakan lingkungan di sekitar jalan tersebut.

System  drainase permukaan terdiri dari :

1.  Lereng Permukaan Jalan

Tergantung dari jenis permukaan jalan

Jenis Lapis Permukaan Jalan Lereng Permukaan Jalan %
A.  Jalan Beraspal :
1.   Jalar Raya Utama,                Gd 8t
2.   Jalan Raya Sekunder,          Gd 5t
3.   Jalan Raya Penghubung,    Gd 3,5t
2% – 4% (tergantung dari sifat permukaan perkerasaan: gradasi tertutup – terbuka)
B.  Jalan tidak beraspal
1.   Tanah dipadatkan
2.   JAPAT
3.   Krikil
4.   Lapis Mac Adam
8%
6%
5%
4%

2.  Aliran Pada Saluran Terbuka

                   Q = V. A m3/det

Q =  Jumlah aliran per satuan waktu di suatu pipa atau saluran, m3/det.
V =  Kecepatan aliran, m/det.
A =  Luas Penampang melintang m2.

3.  Hubungan Antara Landai Jalan dan Lereng Permukaan Jalan.

a.  Pada bagian jalan yang datar atau sedikit menanjak, landai jalan lebih kecil dari lereng perkerasan jalan, maka air hujan akan mengalir kesamping melewati perkerasan dan bahu jalan.

b.  Pada bagian jalan di bukit-bukit, landai jalan lebih curam dari lereng perkerasaan jalan, maka air hujan akan mengalir mengikuti arah gaya berat sepanjang tepi perkerasan.
Pada keadaan ini, sebagia aliran air dapat diatasi dengan membuat saluran melintang bahu jalan pada jarak tertentu (tali-tali air).

4.  Saluran-saluran

Menurut fungsinya dapat di bedakan menjadi:
1.  Saluran samping
2.  Saluran penampung
3.  Saluran penyimpang
4.  Saluran terjun bertingkat-tingkat
5.  Saluran pembuang samping
6.  Bak penangkap (cactch basin)
7.  Bak penampung
8.  Bendung penutup selokan

1.  Saluran Samping

Gambar : Saluran Samping

Gambar : Saluran Samping

  • Bentuk saluran dibuat berbentuk trapesium dengan ukuran minimum 135 x 45 x 45 cm dengan lereng 1 : 1.
  • Saluran samping digali sejajar dengan jalur lalu lintas, diluar bahu jalan. Dasar saluran minimal 65 cm di bawah permukaan jalan, dan kemiringan biasanya di buat mengikuti arah pembuang air.
  • Kemiringan arah memanjang saluran samping, di buat antara 0.67% – 5% (tergantung debit, jenis bahan/tanah dan dan lain sebagainya). Bila kemiringan > 5% diperlukan pasangan batu untuk mencegah erosi, atau dengan saluran kaskade (bertangga-tangga).
  • Bangunan sementara pengedalian erosi, dapat di buat dengan murah, yaitu dari pelat-pelat bekas drum aspal, dipasang melintang saluran sehingga merupakan ambang.
  • Besar kecilnya biaya pemeliharaan tergantung dari kecepatan air yang melalui selokan yang bersangkutan.
  • Kecepatan aliran air yang diizinkan dalam suatu selokan berdasarkan jenis material sebagai berikut.
Jenis Tanah/Bahan Selokan Kecepatan aliran air yang diizinkan
(m/det)
– Pasir halus
– Pasir kelempungan
– Lanau aluvial
– Pasir kelempungan adat
– Kerikil halus
– Rumput yang dipotong pendek
– Lempung keras
– Kerikil kasar
– Batu beronjol
– Pasangan batu dengan adukan semen
– Beton dengan permukaan halus atau sedang
0.45
0.50
0.60
0.75
0.80
1.00
1.00
1.20
1.50
1,50
1.50
  • Jarak sisi luar selokan dengan kaki talud minimal 50 cm, agar longsoran lereng galian tidak menutup selokan.

Bentuk saluran samping

a. Penampang segi tiga atau selokan berbentuk V

Gambar : Penampang Segi Tiga

Gambar : Penampang Segi Tiga

b. Penampanan trapesium

Gambar : Penampang Trapesiun

Gambar : Penampang Trapesiun

Disarankan agar galian :
d  =  Lebar dasar selokan.
w  =  3 x Lebar dasar

2.  Saluran Penampang

Atau disebut juga saluran penangkap, dibangun pada bagian atas lereng galian untuk mencegah air mengalir ke jalan atau untuk mencegah tidak stabilan talud, sehingga sehingga tidak terjadi penggerusan pada lereng dan tumit timbunan.
Jarak bagian atas lereng dengan salurang penampung, minimal lebih kurang 5m,
Kemiringanga arah memanjang 1 : 60.

3.  Saluran Penyimpang

Diperlukan untuk membuang air di suatu tempat berdekatan dengan jalan ke saluran pembuangan yang terletak tidak berjauhan dengan jalan.

4.  Saluran Terjun bertingkat-tingkat

Diperlukan pada kondisi :

Dibuat bila menghadapi landai medan yang terjal dan pendek
Contoh : aliran melalui talud galian.
Pada dasarnya sama seperti saluran kaskade

5.  Saluran Pembuang Samping

Pada suatu bagian terjadi perubahan penampang melintang dari daerah galian ke daerah timbunan, selikan samping dari bagian jalan ke daerah timbunan, selokan samping dari bagian jalan harus di ubah arah alirannya menjauhi kaki talud timbunan maka harus dibuat saluran pembuang samping diluar timbunan. Saluran ini akan membantu pencegahan erosi kaki talud timbunan.

Gambar : Saluran Pembuang Samping

Gambar : Saluran Pembuang Samping

6. Bak Penangkap (Catch Basin)

Pada jalan-jalan kota yang mempunyai kelandaan kecil (kurang lebih datar) dan menggunakan “crub & gutter” perlu dibuat bak penangkap (catch basin), untuk mengalirkan air permukaan perkerasan dengan cepat ke luar badan jalan.
Kalau jarak bak penangkap ini terlalu jauh, maka air yang dapat dialirkan sedikit, sehingga jalan tidak cepat kering. Makin dekat jarak bak penangkap, makin banyak air yang dapat dialirkan, sehingga jalan cepat kering, tapi tetap dengan syarat adanya saluran pembuang tepi dengan kapasitas yang memadai.
Cukup effisien bila jarak bak penangkap di pasang minimal pada jarak 30m.

Gambar : Bak Penangkap

Gambar : Bak Penangkap

7.  Bak Penampung

Diperlukan pada kondisi :
– Pertemuan antara gorong-gorong dan saluran tepi.
– Pertemuan lebih dari 2 arah aliran.
– Perubahan arah aliran yang tajam.

Jarak bak penampung di pasang sesuai dengan kebutuhan (debit air, kemiringan, dan sebagainya).

Gambar : Bak Penampung

Gambar : Bak Penampung

8.  Bendung Penutup Selokan

Perlu dibuat pada tempat-tempat tertentu (tergantung kondisi medan) dengan tujuan mengendalikan debit sesuai kapasitas saluran yang tersedia. Maksud mengendalikan debit adalah membendung air selokan samping dan mengalirkan ke luar bada jalan.

Gambar : Bendung Penutup Selokan

Gambar : Bendung Penutup Selokan

CARA PELAKSANAAN

1.  Penentuan titik selokan.

Lokasi, Panjang, arah aliran dan kelandaian yang disyratkan dari semua selokan yang akan di bentuk lagi atau diberi pasangan harus disesuaikan dengan gambar rencana.

2.  Konstruksi Selokan.

  • Tanaman yang tumbuh dan tidak dikehendaki, sampah-sampah dan endapan lainnya harus dikeluarkan dari tepi dan dasar selokan.
  • Penggalian, penimbunan dan pemotongan untuk pembentukan selokan harus dilaksanakan sampai kelandaian yang terlihat pada gambar penampang memanjang.
    Pemasangan batu dilaksanakan setelah pembentukan selokan memenuhi syarat yang ditetapkan dalam gambar.
  • Semua bahan-bahan galian harus dibuang dengan mengeluarkanya dari tempat kerja.

3.  Mempertahankan saluran yang ada

Sungai atau kanal alam yang berdampingan dengan lokasi pekerjaan tidak boleh terganggu dengan adanya pekerjaan ini.
Apabila stabilisasi timbunan atau pekerjaan permanen lainnya akan menghalangi kelancaran fungsi saluran air ini tanpa dapat dihindarkan seluruh atau sebagian dari saluran air yang ada, maka saluran air harus dipindahkan untuk menjamin bahwa aliran tidak terhalang oleh pekerjaan pada ketinggian aliran air yang biasa.

Baca :  Jenis Aspal Hotmix (Beton) dan Fungsi Utamanya Dalam Proyek Jalan.

Peminadahan saluran air tetap harus mempertahankan kelandaian lantai dasar saluran yang ada, dan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan gerusan yang merusak baik pada pekerjaan ataupun tanah milik yang berdampingan.

4.  Rencana Kerja

  • Dalam pembuatan drainase yang baik harus dibuat sedemikian rupa agar drainase berfungsi sebelum pekerjaan pada timbunan dan pekerjaan jalan dimulai.
  • Perbaikan dari pekerjaan yang tidak memuaskan
    i. Pelaksanaan selokan yang tidak memenuhi kriteria toleransi, meliputi :
    1. Penggalian atau penimbunan kembali
    2. Perbaikan atau penggantian pasangan batu yang rusak
    ii. Pekerjaan timbunan yang kurang memuaskan

PENGUJIAN

  1. Lakukan uji kepadatan terhadap tanah timbunan yang digunakan.
    Sifat material tanah juga harus di uji dan harus memenuhi persyaratan spesifikasi.
  2. Untuk selokan yang menggunakan pasangan batu harus dilakukan pengujian sebagai berikut:
    a.  Uji sifat material batu.
    b.  Uji sifat adukan beton.
    c.  Uji sifat kepadatan tanah dasar.
    d.  Uji koordinat panampang selokan.
    e.  Menguji fungsi saluran pada saat aliran air (dimusim hujan).

MENENTUKAN DIMENSI

Toleransi dimensi :

  • Ketinggian akhir dari lantai dasar selokan tidak boleh berbeda dari yang telah ditetapkan yaitu 1 cm pada setiap titik dan harus cukup halus dan rata untuk menjamin agar air dapat mengalir dengan deras tanpa genangan pada saat aliran air kecil.
  • Alinyemen selokan dan profil penampang melintang yang telah selesai tidak boleh berbeda dengan yang telah ditentukan yaitu lebih dari 50 mm pada setiap titik.
    Kapasitas dari drainase permukaan air pada setiap titik harus memadai untuk membawa aliran air dari daerah pengeringan diatas titik itu.

Debit air yang harus dibawa oleh

           Q  =  (r (A x 106) i)/(3600 x 10)     atau     Q=2.778 A.r.i

Q  =  Debit air yang mengalir melalui suatu penampang per satuan waktu (m/det).
r   =
A  =
i   =

Dari data di atas kita dapat menentukan :
–  Ukuran pipa.
–  Ukuran saluran terbuka.
–  Gorong-gorong persegi.

Menentukan ukuran pipa

           Q  =  A  x  V

V  =  C    RS
Q  =  debit air dalam m3/det
V  =  Kecepatan aliran dalam m/det
R  =  Jari-jari hidraulis dalam m
    =   luas penampangan melintang basah keliling basah saluran
S  =  Kelandaian dalam m/m

Menentukan ukuran saluran terbuka :

           Q  =  A  x  V

Q  =  Debit air dalam m3/det
A  =  Luas penampangan melintang dalam m2
V  =  Kecepatan aliran dalam m/det

Kecepatan aliran V, dihitung dengan rumus Manning

           V=1/n  x  R2  x  S

n  =  Koefisen Manning yang nilainya berkisar antara 0.025 – 0.6 dan untuk pipa nilainnya 0, 015
R  =  Jari- jari hydraulis dalam meter
S  =  Kelandaian saluran 1/1000 = 0,01

PERBAIKAN KESALAHAN

Perbaikan dilakukan terhadap pekerjaan drainase permukaan yang rusak atau tidak memuaskan diantaranya :

  1. Pemadatan kembali tanah timbunan jika hasil uji kepadatan tidak memuaskan.
  2. Perbaikan dilakukan terhadap pekerjaan pasangan batu yang tusak atau tidak memuaskan.
  3. Apabila saluran yang bisa dibuat tidak berfungsi pada saat dialiri air, maka perlu diselidiki faktor penyebabnya, dan kemudian dilakukan perbaikan.
  4. Jika hasil uji material porous tidak memuaskan maka perlu dilakukan pergantian material yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi.
  5. Jika tanah urugan rusak/longsor karena pengaruh air hujan (pengaliran air yang kurang diperhatikan) maka harus diurung kembali dan dipadatkan lapis demi lapis.
  6. Kadang-kadang ø pipa gorong-gorong yang di pasang kurang besar, sebab aliran air membuat endapan lumpur, untuk itu ø pipa harus diperbesar.
  7. Kerusakan berat setempat akibat longsor pada lereng saluran, sehingga saluran tersumbat tidak berfungsi. Untuk mengatasinya maka lereng harus diperbaiki dengan pengurugan dan pemadatan kembali serta saluran dibersihkan agar dapat berfungsi kembali.
  8. Terdapat lubang-lubang pada gorong-gorong yan g sudah terpasang, disebabkan karena kesalahan pelaksanaan atau mutu beton yang kurang baik. Untuk itu maka gorong-gorong tersebut harus diganti dengan yang baru dengan kondisi baik dan siap pakai
  9. Retak ringan pada saluran pasangan batu/beton yang disebabkan oleh pengembangan/penyusutan tanah yang bersifat ekspansip. Penangannya dilakukan dengan mengisi retak-retak yang ada dengan campuran aspal pasir atau adukan semen pasir. Jika retaknnya cukup berat, maka bagian yang retak dibongkar, tanah ekspansip dibawahnya diganti sedalam ± 20cm, dan disimpan serta dipadatkan.
    Kemudian bangunan drainase tersebut diperbaiki.

PEMELIHARAAN DRAINASE

Karena drainase permukaan merupakan bagian dari jalan yang akan mempengaruhi kestabilan badan jalan serta kemantapan perkerasannya yang dikaitkan dengan masalah air, maka perawatan drainase permukaan perlu diperhatikan secara khusus agar tetap dapat berfungsi penuh untuk mengalirkan air secepatnya dari daerah sekitar jalan, baik air pada permukaan maupun air tanah, agar tidak mempengaruhi perkerasan jalan dan tanah dasar.

Perawatan drainase dikenal dengan 2 macam cara yaitu :
–  Koreksi (perubahan)
–  Proteksi (perlindungan )

a.  Koreksi

Tujuan :

  • Mengembalikan kondisi bangunan ke keadaan semula agar pengaliran air tetap lancar.

Sifat :

  • Setempat.
  • diperbaiki sesuai keadaan lapangan.
  • dapat juga merupakan perbaikan berat.

Penerapan :

  • Dilakukan pada bangunan yang mengalami rusak berat setempat.
    contoh : longsor di lereng saluran ; lubang pada gorong-gorong dan lain sebagainya.

b. Proteksi

Tujuan :

  • Mempertahankan kondisi bangunan agar pengaliran air tetap lancar.

Sifat :

  • dilaksakan secara berkala.
  • tidak menyangkut perbaikan banguna, kecuali perbaikan ringan.

Penerapan :

  • dilaksanakan pada bangunan yang mengalami gangguan pengaliran air bukan disebabkan kerusakan bangunan misalnya : endapan lumpur atau kerusakan ringan yang tidak mengganggu pengaliran air (misalnya: retak-retak pada bangunan permanen).

Perawatan Kerusakan

Meliputi beberapa jenis kerusakan :

1.  Kelainan kemiringan melintang :
       a.  di permukaan perkerasan jalan.
       b.  di permukaan bahu jalan.

2.  Retak :
       a.  Pada saluran pasangan batu yang terletak dipermukaan tanah.
       b.  Pada gorong-gorong.

3.  Akibat perubahan penampang saluran :
       a.  Perubahan bentuk pada gorong-gorong.
       b.  Akibat penyumbatan/pengendapan.
       c.  Akibat longsoran pada lereng saluran.
       d.  Akibat penggerusan.

4.  Lubang :
       a.  Pada saluran tanah.
       b.  Perubahan bentuk pada gorong-gorong.
       c. Perubahan bentuk pada gorong-gorong.Pada saluran pasang batu.
       d.  Pada gorong-gorong.

Kelainan kemiringan melintang

a.  Pada permukaan perkerasan jalan

  • Biasanya akibat gangguan pada kemiringan melintang normal permukaan perkerasan jalan.
  • Mengakibatkan pengaliran air kurang lancar
  • Disebabkan karena permukaan perkerasan jalan mengalami kerusakan seperti amblas, lubang, alur dan lain sebagainya.
  • Penanganan secara KOREKSI seperti pada perawatan jalan.

b. Pada permukaan bahu jalan

  • Biasanya akibat gangguan pada kemiringan melintang normal permukaan bahu jalan
  • Mengakibatkan pengaliran air kurang lancar
  • Disebabkan karena permukaan bahu jalan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan atau permukaan bahu jalan mengalami kerusakan.
  • Penangan secara KOREKSI seperti pada perawatan bahu jalan

Retak

a. Pada saluran pasangan batu terletak di permukaan tanah.

–   Biasanya akibat :

  • Penyusutan/pengembangan tanah yang ekspansip.
  • Tekanan air tanah (up lift).
  • Lalu lintas.
  • Penurunan permukaan tanah di bawah bangunan.

–   Mengakibatkan peresapan air yang akan memperlemah bahan sekitarnya.
     misal : bahan perkersan, tanah dasar, tanah pada lereng dan sebagainya.

–   Bentuk kerusakan :

  • setempat/berat.
  • Luas/ringan.

– i.  Pengananan untuk kretakan yang ringan untuk drainase permukaan meliputi bidan yang harus secara proteksi yaitu :

  • Permukaan sekitar retak dibersihkan dengan sikat kawat.
  • Retak diisi dengan adukan semen pasir dan permukaan sekitar retak diplester.

Bahan :
Adukan semen pasir

Perlatan :

  • Sendok adukan
  • Ember
  • Roda dorong
  • Sekop dan lain sebagainya

– ii.  Penanganan untuk kretakan yang berat setempat untuk drainase permukan secara KOREKSI yaitu :

  • Bagian yang retak dibongkar.
  • Tanah yang ekspansip digali sedalam kurang lebih 20 cm dan diisi pasir.
  • Pasir dipadatkan.
  • Bangunan drainase dibentuk kembali seperti semula.

Bahan :

  • Pasir.
  • Semen.
  • Air.

Peralatan :

  • Cangkul.
  • Linggis.
  • Timbris.
  • Roda dorong dan lain sebainya.

b. Pada gorong-gorong :

– Biasanya akibat :

  • Penyusutan/pengembangan tanah yang ekspansip.
  • Tekanan air tanah (up lift).
  • Lalu lintas.
  • Penurunan permukaan tanah di bawah bangunan.

Perubahan penampangan saluran

a. Perubahan bentuk gorong gorong.

  • Biasanya pada gorong-gorong dari logam.
  • Mengakibatkan pengaliran air terhambat.

Disebabkan :

  • Beban lalu lintas.
  • Pergerakan tanah.

Penanganan secara KOREKSI pada drainase yaitu seperti pada retak gorong-gorong beton (pasal 5.3.2.b)

Bahan :

  • Gorong-gorong.
  • Semen.
  • Bahan pekerasan.
  • Pasir.

Peralatan :

  • belencong.
  • Linggis getar.
  • Alat pemadat.
  • Kunci inggris.
  • Sendok semen.
  • Alat lainnya.

b. Akibat penyumbatan/endapan

  • Biasanya bentuk bangunan tidak berubah dan tidak rusak.
  • Bentuk kerusakan : luas/setempat.
  • Mengakibatkan pengaliran air terganggu.
  •  Disebabkan karena terkumpulnya/mengendapnya lumpur, reruntuhan tanah/bangunan atau sampah-sampah, ranting, tumbuh rumput, akar dan lain sebagainya.
  • Penangan secara KOREKSI yaitu membersihkan saluran dari bahan endapan sehingga kembali ke bentuk semula, dilaksanakan secara manual.
    Disini endapan yang baik dapat digunakan untuk memperbaiki bahu, yang jelek di buang ke suatu tempat tertentu
  • Bentuk dan sifat seperti lubang pada saluran tanah.
  • Disebabkan karena karat.

Penanganan acara KOREKSI pada drainase permukaan yaitu seperti pada cara kerja retak gorong-gorong beton.

  • Bahan :
  • –  Gorong-gorong logam
    –  Bahan perkerasan
  •  Perkerasan :
  • –  Sama seperti pada perubahan penampang gorong-gorong logam

c.  Akibat longsoran pada lereng saluran

  • Biasanya akibat air, hewan atau lalu lintas
  • Bentuk kerusakan : setempat
  • Mengakibatkan bangunan mengalami kerusakan karena dipenuhi longsoran yang mengakibatkan pengaliran air terganggu.

Penanganan :

  • Pada saluran tanah secara KOREKSI secara perbaikan lereng yang longgar sehingga kembali ke bentuk semua dan pembersihan saluran dari longsoran. Dilakukan secara manual atau secara TOK B
  • Pada saluran pasangan batu seperti (pasal …………. )

d.  Akibat penggeseran

  • Biasanya akibat aliran air.
  • Bentuk kerusakan setempat dan terjadi pada saluran tanah.
  • Mengakibatkan longsoran pada lereng/tanggul karena aliran ini akan mengikis badan jalan atau tanggul.

Penanganan secara KOREKSI pada drainase permukaan seperti penangan pada longsoran saluran tanah (pasal  …………. )

Lubang

a.  Lubang pada saluran tanah

  • Biasanya akibat binatang yang membuat sarang atau dilewati jejak binatang atau akibat penggerusan air.
  • Bentuk kerusakan setempat.
  • Mengakibatkan melemahnya bahan disekitarnya misal : bagian perkerasan tanah dasar, bahan bahu tanah pada lereng.

Penanganan secar KOREKSI pada drainase permukann yaitu bagian tanah sekitar lubang digali dan ditutup kembali .

  • Bahan :
    –   Sesuai tanah semula
  •  Peralatan :
    –   Cangkul

b. Lubang pada saluran pasangan batu

  • Bisanya akibat penggerusan air.
  • Bentuk kerusakan setempat berat.
  • Mengakibatkan melemahnya bahan di sekitarnya.
    Misal : bagian perkerasan, tanah dasar, bahu dan lain sebagainya.

Penangan secara KOREKSI pada drainase permukaan yaitu seperti pada retak setempat berat (pasal 5.3.2.b)

c.  Lubang pada gorong-gorong logam.

  • Mengakibatkan peresaspan air yang akan memperlemah bahan disekitarnya
    – Bentuk kerusakan : setempat/berat

Penangan secara KOREKSI pada drainase permukaan yaitu :

  • Perekerasan dan gorong-gorong yang mengalami kerusakan dibongkar.
  • Kalau akibat tanah yang ekspansip, maka harus digali sedalam 20 cm dan diisi pasir
  • Pasir dipadatkan.
  • Gorong-gorong baru di pasang.
  • Lubang/galian diisi dan disempurnakan dengan bahan perkerasan.
  • Perbaikan dapat juga menyangkut ujung gorong-gorong (outlet)

d.  Pemeliharaan rutin.

Sebelum melaksanakan pemeliharaan rutin drainase permukaan, maka perlu didahului dengan kegiatan inspeksi lapangan (guna menentukan skala prioritas penanganan).

Pekerjaan berhubungan dengan pekerjaan drainase Permukaan :

  1. Field Engineering.
  2. Pasang batu adukan.
  3. Galian.
  4. Timbunan.
  5. Pasang batu karang dan bronjong.

Baca Juga :  Bahu Jalan (Shoulder).

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates