Home / Blog / Cara Pengujian Kualitas Pasir di Lokasi Konstruksi
134 views

Cara Pengujian Kualitas Pasir di Lokasi Konstruksi

Ada berbagai macam cara pengujian kualitas pasir di lokasi konstruksi beton. Kualitas pasir sangatlah penting sama halnya dengan kualitas bahan lainnya untuk proses pembuatan beton. Agregat yang melewati saringan 4,75 mm IS disebut agregat halus. Agregat halus terdiri dari pasir batu hancur, pasir alam, debu pasir batu kerikil yang hancur, serbuk halus dari batu bata, dan fly ash. Bahan tersebut bersifat keras, bersih, inert secara kimiawi, tahan lama, dan bebas dari pelapis yang melekat. Bahan ini tidak boleh mengandung sejumlah besar plet atau bolah tanah liat dan kotoran seperti alkali, garam, mika, batu bara, atau bahan dilaminasi yang dapat menyebabkan korosi logam serta mempengaruhi ketahanan dari beton. Jumlah presentasi semua bahan perusak tidak boleh lebih dari 5%. Agregat halus harus dicek dari kotoran organik seperti debu bata bara, vegetasi yang busuk, dan lain-lain.

Cara Pengujian Kualitas Pasir

1. Uji kotoran organik

Tes ini dilakukan di lokasi untuk setiap 20 m3 atau sebagainya.

2. Silt Content test

Tes ini merupakan tes lapangan dan dilakukan untuk setiap 20 m3.

3. Distribusi ukuran partikel

Tes ini dapat dilakukan di lapangan atau di lab untuk setiap 40 tangkai agregat.

4. Bulking of sand

Uji ini dilakukan di lokasi untuk setiap 20 m3. Berdasarkan tes pasir jenis ini, raiso air yang sesuai dihitung untuk beton di lokasi.

Uji Lumpur dalam Agregat

Jumlah maksimum lumpur dalam pasir tidak boleh melebihi dari 8%. Agregat halus yang mengandung lebih dari presentase tersebut harus dicuci terlebih dahulu sehingga bisa mengurangi kandungan lumpur dalam pasir.

Uji Grading Pasir

Menurut ukuran partikelnya, agregat halus dikategorikan menjadi empat zona. Apabila gradasi berada diluar batas zona yang ditentukan, selain saringan IS 600 mikron, dan tidak melebihi 5%, maka dianggap turun dalam zona gradasi tersebut.

Uji Bahan Perusak Pasir

Pasir yang bagus tidak mengandung kotoran berbahaya seperti garam, besi, batu bara dan kotoran organik lainnya. Apabila terdapat kandungan yang merusak pasir, maka akan mempengaruhi kekuatan dan daya tahan mortir. Jumlah maksimal tanah liat, lumpur halus, dan debu halus tidak boleh lebih dari 5% massa di IS 2386 (Bagiian-II). Sedangkan untuk kotoran organik di debu pasir apabila ditentukan dalam warna cairan harus lebih ringan dengan disesuaikan IS 2386 (Bagian-II) daripada yang ditentukan kode.

Uji Bulking Pasir

Pada agregat halus yang kering akan memiliki volume yang hampir sama tetapi apabila lembab akan menyebabkan volume bertambah. Jika agregat halus itu lembab ketika proporsional bahan untuk beton, jumlahnya harus ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan bulking.

Alat untuk Menguji kadar lumpur dalam pasir

Kita dapat melakukan pengujian untuk melihat kadar lumpur pada pasir dengan menggunakan gelas ukur 1000 ml dan timbangan digital. Sedangkan untuk bahan-bahannya kita membutuhkan pasir, Natrium Hidroksida, dan air. Caranya pun cukup mudah, antara lain dengan memasukkan pasir sekitar 230 ml ke dalam gelas ukur yang sudah disiapkan. Lalu masukkan air sebanyak 70 ml. Kemudian, masukkan Natrium Hidroksida sebanyak 30 ml. Langkah selanjutnya yaitu tutup gelas ukur tersebut dan kocok-kocok sampai Natrium Hidroksida larut dalam air. Diamkan larutan tersebut hingga satu jam dan lihatlah hasilnya. Apabila anda menguji sampel ini lebih dari satu, lakukanlah dengan cara yang sama sesuai urutan. Setelah satu jam didiamkan, kualitas pasir yang baik, warna airnya menjadi bening dan tidak berwarna coklat seperti lumpur.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates